Selasa, 12 Agustus 2014

Pengertian Rule Of Third Fotografi

"Rule of Third" atau aturan sepertiga merupakan satu aturan klasik mengenai komposisi, yaitu dengan membagi bidang horisontal dan bidang vertikal menjadi 3 bagian dengan cara menempatkan dua garis pada bidang horisontal dan vertikal sehingga menghasilkan 9 bagian. Dari situ akan didapatkan 4 buah titik pertemuan antara garis vertikal dan horisontal yang disebut dengan Potongan Kencana (Golden Section). Aturan komposisi ini ternyata sudah sejak lama diterapkan oleh pelukis-pelukis Eropa pada abad pertengahan.


Sebagai contoh saat kita mengambil gambar landscape, penempatan garis batas cakrawala merupakan sesuatu yang sangat penting. Garis cakrawala yang diletakkan di tengah akan membagi bidang gambar menjadi dua bagian yang sama besar/simetris, sehingga selain terasa statis juga tidak mengajak penonton untuk merasakan kesan tertentu.
Dengan "rule of third", misalnya subyek gambar adalah pemandangan laut dengan menempatkan garis cakrawala pada 1/3 bagian atas dari bidang gambar, di sini jelas fotografer ingin bercerita tentang perahu-perahu nelayan, ketenangan laut, kedahsyatan gelombang dan sebagainya tergantung situasi saat itu. Peran langit yang merupakan bagian kecil dari gambar menjadi pelengkap yang mendukung suasana dalam gambar.
Sebaliknya jika kita menempatkan garis cakrawala pada bagian bawah bidang gambar, langitlah  yang menjadi subyek, kita bisa menonjolkan keindahan langit senja atau birunya langit yang menguasai lautan.

Dimana kita menempatkan garis cakrawala tentunya ada alasan untuk menonjolkan sesuatu sehingga dapat menciptakan foto yang mengesankan. Kita juga harus mempertimbangkan apakah ada sesuatu yang mengganggu, misalnya langit yang begitu terang dan kosong dijadikan subyek gambar.

Namun "Rule of third" bukanlah aturan baku, hanya sebagai panduan saja. Penerapannya tidak harus benar-benar akurat menempatkan "Point of Interest" tepat pada "Golden Section" sehingga akan membatasi kreatifitas. Komposisi adalah rasa, sehingga tidak ada aturan yang boleh membatasi.

Cara Kerja Kamera DSLR

Kepanjangan dari DSLR adalah Digital Single Lens Reflex. Jika diterjamahkan dalam bahasa Indonesia kurang lebih artinya kamera digital dengan satu cermin pantul. Bagaimana sebenarnya sistem kerja cermin pantul/Lens Reflektor, simak penjelasan berikut:

Saat melihat melalui viewfinder/jendela bidik kamera DSLR, cahaya dari obyek foto akan masuk melalui lensa hingga mengenai cermin pantul dan kemudian cahaya tersebut dipantulkan ke pentaprisma untuk selanjutnya diteruskan ke viewfinder atau jendela bidik. Sehingga apa yang terlihat di viewfinder adalah sama dengan hasil foto yang akan kita dapatkan.

Saat memotret dengan menekan tombol shutter release maka cermin pantul akan mengayun ke atas sehingga cahaya dari obyek akan langsung mengenai sensor gambar dari kamera, saat itu terjadi proses perekaman pada sensor gambar. Cermin pantul akan terbuka selama waktu shutter speed yang ditentukan, apabila proses telah selesai maka cermin pantul akan kembali ke posisi awal dan viewfinder bisa menampilkan gambar lagi.

Proses yang terjadi di sensor digital adalah cahaya yang mengenai sensor diolah oleh komputer (processor) yang ada pada kamera. Processor tersebut akan menganalisa informasi yang terekam pada sensor, kemudian mengubahnya ke dalam format digital dan menuliskan/menyimpan hasilnya ke dalam memory card.

Proses tersebut selalu terjadi apabila kita menekan tombol shutter atau melakukan pemotretan. Cepat atau lambatnya proses tergantung pada setelan shutter speed.

Perlu juga diketahui bahwa sensor gambar pada kamera DSLR berukuran besar dibanding dengan jenis kamera lain, sehingga dapat menghasilkan foto dengan kualitas yang lebih bagus dan tajam.

Teknik Foto Kembang Api

Memotret kembang api merupakan hal yang umum dilakukan saat tahun baru maupun saat acara konser musik. Kegiatan ini cukup mengasikkan dan tidak terlalu sulit bagi yang sudah ahli. 

 Bagaimana dengan fotografer pemula, apakah hal tersebut sulit dilakukan?


Untuk memotret kembang api tentunya kita harus mengetahui terlebih dulu dimana tempat akan diadakannya pesta kembang api. Setelah itu baru cari tempat untuk mendapatkan angel terbaik agar bisa mengambil titik dimana kembang api memancar dan objek apa saja yang ingin dimunculkan dalam frame. Setelah menemukan konsep dengan lokasi yang tepat, siapkan tripod untuk mencegah goncangan agar hasil foto terlihat tajam walaupun menggunakan slow speed (namun tidak wajib).

Settingan kamera

Matikan fungsi flash di kamera, karena flash tidak dibutuhkan sama sekali saat pemotretan kembang api; matikan autofokus; pilih manual mode untuk mengontrol eksposure sesuai dengan keinginan; pilih ISO 100 atau 200 untuk menghindari noise; bukaan diafragma f/8 sampai f/18 agar foto terlihat tajam; shutter speed atur paling cepat 30 detik atau bulb untuk mendapatkan efek pancaran kembang api terlihat mulai dari saat menyala sampaai padam. Setingan tersebut juga tidak mutlak, hanya sebagai dasar saja.

Penggunaan resolusi yang besar adalah untuk mendapatkan hasil yang tetap terjaga baik saat dilakukan proses cropping pada foto. Proses cropping biasa dilakukan saat pengambilan foto di area gelap, karena komposisi yang masuk dalam frame biasanya tidak terlihat.

Pilihan Lensa

Sebaiknya menggunakan lensa wide (sudut lebar) dalam pemotretan kembang api, ini penting untuk pengambilan yang menyertakan objek lain dalam frame atau jika dalam pesta kembang api tersebut banyak yang dinyalakan bersama sehingga banyak titik pancaran dapat tercover ke dalam frame. Penggunaan lensa tele juga baik untuk pengambilan satu atau dua titik pancaran kembang api. Jadi terserah bagaimana konsep masing-masing.

Memotret sebanyak mungkin

Biasanya pesta kembang api hanya pada momen-momen tertentu saja, jadi bila mendapati momen tersebut jangan ragu untuk mengambil foto sebanyak mungkin sambil belajar setting kamera dan pemahaman eksposure. Alasan lain adalah jika kita menggunakan DSLR kan tidak perlu membeli film, jadi ambil foto sebanyak mungkin untuk mendapatkan banyak hasil sebagai bahan evaluasi kemampuan fotografi kita.


apa itu APERTURE?


APERTURE
Mari kita pahami dulu tentang aperture. Aperture adalah ukuran seberapa besar lensa terbuka (bukaan lensa) saat kita mengambil foto. Jadi, saat kita menekan shutter lubang di depan sensor kamera akan terbuka, settingan aperture inilah yang mengatur besar kecil bukaan tersebut. Fungsi aperture selain sebagai jendela yang mengatur sedikit banyaknya cahaya yang masuk, juga berfungsi untuk mengatur efek ngeblur dan fokusnya obyek pada foto kita.
Dalam kamera bukaan diafragma dilambangkan dengan huruf  ” f ” (misal: f 3.5 ; f 5.6 ; f 8, dsb). Nah, sedikit rumus (walah kaya Matematika):
1. Semakin kecil angka ” f ” (f 1.8, f2, dsb) berarti semakin besar lubang diafragmanya dan semakin banyak volume cahaya yang masuk, lalu DOF akan semakin sempit
2. Semakin besar angka “f” (f 8, f 22, dsb) berarti semakin kecil lubang diafragmanya, semakin sedikit volume cahaya yang masuk, lalu DOF akan semakin lebar.
bentuk bukaan diafragma (sumber:google)